Rabu, 13 Juli 2011

PENDIDIKAN KESELAMATAN DALAM PENDIDIKAN JASMANI






BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kesehatan adalah sesuatu yang tidak ternilai harganya, setiap orang menyadari hal tersebut, akan tetapi sedikit orang yang sadar untuk menjaga kesehatannya. Jaman sekarang sangat sedikit sekali waktu yang tersedia untuk menjaga kesehatan, karena orang-orang sekarang sangat disibukan dengan berbagai aktivitasnya seperti pekerjaan yang sangat menyita banyak waktu sehingga untuk menjaga kesehatan dirinya sendiri pun tidak ada. Jika kita melihat hal tersebut maka kebanyakan orang-orang sekarang sangat mementingkan kehidupan ekonomi yang lebih layak dibandingkan dengan kesehatan pada dirinya, dengan kata lain kehidupan di dunia ini memang sangat berharaga, sehingga kita sebagai manusia harus benar-benar menjaga diri kita agar kita tetap sehat dan terhindar dari yang namanya cidera.

Setiap orang membutuhkan rasa aman baik pada saat dijalan maupun ditempat-tempat yang lain. Rasa aman ini erat sekali kaitannya dengan masalah keselamatan. Untuk itu setiap orang perlu menjaga dan berusaha agar selamat selama menjalankan tugasnya. Namun, kadang-kadang seseorang tidak sadar bahwa tindakanya membahayakan orang lain, sehingga mengancam keselamatan orang lain bahkan juga dirinya sendiri.

Jika kita melihat fakta-fakta yang ada maka memang semua aktivitas dan tindakan mempunyai resiko yang bisa mengancam keselamatan diri kita dan orang lain. Tidak terkecuali dalam kegiatan pembelajaran khususnya pembelajaran pendidikan jasmani. Oleh sebab itu kita sebagai guru pendidikan jasmani harus mengantisipasi dan meminimalisasi terjadinya kecelakaan yang mengancam anak didik kita pada khususnya, sehingga kegiatan pembelajaran akan berjalan dengan baik.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas kita dapat dirumuskan masalah yaitu : guru pendidikan jasmani dapat mengidentifikasi factor-faktor yang dapat menimbulkan kecelakaan yang mengancam anak didiknya dan bagaimana cara penerapan atau cara yang dilakukan guru pendidikan jasmani untuk meminimalisasi dan mencegah terjadinya cidera pada anak didiknya.

1.3 Tujuan

Tujuan dari makalah pendidikan keselamatan adalah untuk mengetahui tentang factor-faktor yang dapat mengancam keselamatan pada siswa sehingga guru pendidikan jasmani dapat melakukan sesuatu guna meminimalisasi dan mencegah terjadinya cidera, sehingga keselamatan anak didiknya terjamin.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Pendidikan keselamatan merupakan pembelajaran tentang tata cara dan pencegahan akan kemungkinan terjadinya kecelakaan. Jika kita lihat dari pengertian pendidikan keselamatan maka pengetahuan tentang keselamatan memang sangatlah berarti bagi kita. Aktivitas olahraga selalu identik dengan munculnya cidera, baik cidera yang berupa akut maupun kronis. Cedera terjadi karena berbagai factor, di antaranya : factor usia, jumlah jam latihan, dosis beban latihan, overuse, fleksibilitas, kesalahan teknik, pemanasan dan pendinginan yang kurang, itu secara umum jika kita lihat factor yang ada pada pembelajaran di sekolah dasar maka bisa di persempit lagi atau dikhususkan.

Pada dunia kedokteran olahraga ada semboyan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati, sebab mengobati cidera lebih sulit dan banyak menimbulkan kerugian bagi para penderitanya.

2.2 Ciri

Pendidikan keselamatan merupakan pendidikan yang sebenarnya wajib di ketahui oleh semua orang, sehingga orang-orang paling tidak dapat meminimalisasi dan mencegah terjadinya cidera maupun kecelakaan dimanapun orang itu berada. Dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan jasmani sangat diperlukan pengetahuan tentang pendidikan keselamatan. Sehingga guru akan dapat mengetahui factor-faktor yang dapat menimbulkan cidera serta dapat menerapkan tindakan yang diambil guna memperkecil dan mencegah terjadinya cidera pada anak didiknya.

a. Pentingya pendidikan keselamatan dalam Pendidikan Jasmani

kurangnya perhatian dan pengetahuan tentang tata cara dan pencegahan akan kemungkinan terjadinya kecelakaan, mengakibatkan lebih seringnya terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan rudapaksa atau cedera pada para siswa. Para siswa dapat mengalami rudapaksa pada berbagai keadaan, seperti ketika bermain di halaman sekolah, pada saat istirahat, dan pada saat menerima pelajaran pendidikan jasmani. Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya rudapaksa di lingkungan sekolah maka para guru khususnya guru pendidikan jasmani (Penjas) perlu memahami aspek keselamatan dalam pendidikan jasmani. Ia perlu memiliki keterampilan untuk melaksanakan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya rudapaksa dalam proses belajar mengajar pendidikan jasmani. Rudapaksa ini dapat terjadi pada waktu proses belajar mengajar pendidikan jasmani, disebabkan oleh beberapa kemungkinan yang bersumber pada beberapa factor sebagai berikut:

· Faktor lingkungan belajar

Faktor lingkungan belajar dapat mengakibatkan cidera dikarenakan berbagai hal yang dapat memungkinkan siswa terkena cidera, contohnya yaitu lingkungan tempat belajar siswa berada di pinggir jalan raya sehingga sangat beresiko terjadinya kecelakaan jika siswa berada di dekat jalan raya.

· Faktor fasilitas

Fasilitas merupakan bagian yang penting bagi kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani, akan tetapi jika fasilitas tersebut tidak sesuai dengan standar yang ada maka akan menyebabkan anak didik kita akan mengalami cidera. contohnya misalnya anak-anak sedang melaksanakan kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani di lapangan, sedangakan lapangan kondisinya basah dan licin, hal tersebut dapat mengakibatkan anak terpeleset dan jatuh.

· Faktor peralatan

Kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani tidak lepas dari peralatan, karena peralatan adalah salah satu factor pendukung kegiatan pendidikan jasmani. Tanpa peralatan yang mendukung maka kegiatan pembelajaran tidak akan tercapai sesuai dengan semestinya, dan kemungkinan lain banyak sekali terjadi kegagalan dalam proses pembelajaran. Dikarenakan peralatan adalah factor yang paling mendukung atas berhasil atau tidaknya proses pembelajaran pendidikan jasmani, maka peralatan yang digunakan haruslah standar, sehingga dapat meminimalisasi terjadinya cidera pada anak didik kita. Contohnya jika kita tidak memakai peralatan yang standard an masih bagus misalnya kegiatan pembelajaran sedang melaksanakan materi permainan sepak bola, akan tetapi bola yang digunakan sudah rusak, kulit bola sudah mengelupas sehingga jika bola terkena badan atau kulit siswa akan terasa sakit bahkan luka.

· Faktor manajemen pembelajaran

Manajemen pembelajaran sangat dibutuhkan guna memperlancar kegiatan pembelajaran. Jika manajemen pembelajarannya benar-benar dilaksanakan oleh guru penjas, maka kegiatan pembelajaran akan berjalan dengan teratur, runtut dan tertib sesuai dengan RPP yang telah di buat oleh guru tersebut.

Sehubungan dengan faktor-faktor yang dapat mengakibatkan terjadinya rudapaksa tersebut, maka para guru pendidikan jasmani dan kesehatan (Penjas) sangat perlu memperhatikan, mengetahui, memahami, serta terampil dalam melaksanakan akte aspek keselamatan dalam pendidikan jasmani ini. Oleh karena itu, guru sangat perlu mendalami hal-hal yang menyangkut pengetahuan tentang faktor-faktor penyebab rudapaksa tersebut agar dapat menerapkan aspek keselamatan dalam pendidikan jasmani sehingga mencegah atau mengusahakan sekecil mungkin akan terjadinya rudapaksa khususnya terhadap anak didik atau siswa . Sehubungan dengan itu, maka dalam proses belajar mengajar pendidikan jasmani para guru penjas khususnya harus menyiapkan para siswanya untuk menghadapi pelajaran inti.

Penyiapan ini tidak hanya pada proses belajar mengajar itu berlangsung, tetapi harus dilakukan sebelum, selama, bahkan setelah proses belajar mengajar itu selesai. Manusia terdiri dari unsur jiwa dan raga atau rohani dan jasmani yang merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Siswa atau anak didik perlu mendapat perhatian yang khusus baik rohani maupun jasmaninya. Dalam penyiapan rohani, guru Penjas harus berusaha menjadikan para siswa berminat melaksanakan pelajaran pendidikan jasmani ini sebelum berangkat, dan sesampai di lapangan, guru menyiapkan fisik para siswa dengan kegiatan yang dikenal dengan latihan pendahuluan atau latihan pemanasan. Ini semua bertujuan agar para siswa yang terdiri dari unsure rohani dan jasmani/fisik siap menghadapi dan menerima tekanan yang akan terjadi selama berlangsungnya proses belajar mengajar pendidikan jasmani, sehingga akan terhindar dari kemungkinan terjadinya rudapaksa. Demikian-lah antara lain beberapa alasan mengapa aspek keselamatan dalam pendidikan jasmani sangat di perlukan

.

  1. Keselamatan Berolahraga

Olahraga merupakan penyebab terjadinya cedera yang paling sering. Cedera olahraga ini lebih banyak menimpa anak usia antara 13 sampai 19 tahun. Kontak fisik merupakan fasilitator utama terjadinya cedera pada olahraga. Oleh karena itu cedera sering kali terjadi pada jenis-jenis olah raga seperti sepak bola, basket, hoki dan bela diri.

  1. Keselamatan Lingkungan Dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Jasmani

Lingkungan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, sering kali keadaannya kurang menguntungkan. Pada saat ini, banyak sekolah yang berada di dekat pasar, pabrik, lapangan terbang, atau di tepi jalan yang ramai. Hal ini disebabkan karena memang saat ini sangat sukar untuk mencari tempat yang ideal untuk pendirian sebuah sekolah. Terutama sekolah-sekolah swasta yang pada umumnya menggunakan tanah milik perorangan yang mempunyai prakasa pendirian sekolah tersebut, walaupun akhirnya dijadikan sebuah yayasan.

Dengan kenyataan yang demikian itu maka tidak dapat dihindari lagi pasti akan banyak terjadi gangguan keamanan dalam proses belajar mengajar khususnya dalam pendidikan jasmani, yang akhirnya mengancam keselamatan dan menimbulkan rodapaksa dalam proses belajar mengajar tersebut. Dalam hal ini guru terutama dalam pendidikan jasmani kesehatan harus mampu dan terampil mengatasi gangguan tersebut. Berbagai cara dapat dilakukan oleh guru Penjas yang tentunya perlu mempunyai kiat masing-masing. Apabila sekolah itu berada di lingkungan atau dekat dengan jalan yang cukup ramai, maka harus dijaga agar para siswa jangan sering keluar ke jalan. Apakah keluar kejalan itu untuk mengambil alat atau melaksanakan tugas guru. Harus diusahakan agar alat-alat yang digunakan untuk proses belajar mengajar itu tidak sering keluar halaman sekolah. Pada pelajaran permainan bola volli, atau permainan bola bakar, atau kasti; usahakan arah bola yang dipukul atau di lempar tidak mengarah ke jalan. Dengan demikian maka tidak akan sering bola itu keluar jalan, yang harus segera diambil oleh siswa. Hal ini akan sangat membahayakan bagi keselamatan siswa, karena biasanya siswa akan takut kalau-kalau bolanya tergilas mobil, tetapi tidak mengingat keselamatan diri sendiri.

Dalam pelajaran atletik sering dilaksanakan lari keliling karena guru ingin agar lari keliling itu cukup jauh, maka para siswa harus mengelilingi, tidak hanya gedung sekolah, tetapi mengelilingi lingkungan sekolah yang tentu menggunakan jalan umum. Keselamatan siswa lebih terancam lagi karena pada waktu para siswa berlari, pada umumnya guru tidak menyertai atau mengatur dan menjaga keselamatan para siswa.

2.3. Tujuan Pendidikan Keselamatan

Secara keseluruhan, tujuan pendidikan keselamatan adalah sebagai berikut:

1. Menerapkan praktik keselamatan dalam kegiatan rekreasi, pendidikan jasmani, dan kehidupan sehari-hari, utamanya keselamatan berlalu-lintas.

2. Menanamkan sikap perduli terhadap berbagai hal yang dapat mendatangkan bahaya bagi keselamatan diri pribadi.

3. Bukan hanya mengandung resiko bagi diri sendiri, tetapi juga keselamatan orang lain

4. Mengembangkan pemahaman terhadap hak dan tanggung jawab dalam hubungan dengan orang lain

5. Penguasaan keterampilan menggunakan kendaraan, misalnya naik sepeda, dan sebagainya.







BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Keselamatan merupakan hal yang paling berharga bagi diri kita. Dengan kita selamat kita bias melakukan kegiatan yang lain, yang lebih banyak dan lebih bermanfaat lagi. Oleh sebab itu pendidikan keselamatan sangat penting di kuasai khususnya bagi para guru sehingga dapat menerapkannya pada saat pembelajaran sehingga siswa akan lebih mengetahui tentang keselamatan bagi dirinya sendiri.

3.2 Saran

Untuk para pengajar untuk lebih kreatif lagi dalam menerapkan tingkat keselamatan siswa tanpa mengurangi intensitas kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani. Di samping itu pendidikan keselamatan sebaiknya tidak hanya disosialisasikan di dunia pendidikan saja melainkan di kalangan masyarakat umum juga harus di sosialisasikan.

DAFTAR PUSTAKA

Victok G Simanjuntak, dkk. Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan.

Dirjen Dikti. 2008.

Hardianto Wibowo. 1995 . Pencegahan dan Penatalaksanaan Cedera

Olahraga. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Lutan, Rusli. Penanggulangan Cidera Olahraga Pada Anak Sekolah Dasar. Jakarta:

Dirjen Dikdasmen Depdiknas. 2001

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar